Resensi Buku Selimut Mimpi R. Adrelas
Mimpi Yang
Menyedihkan

Nama : Chrismada MT
Sitepu
Kelas : XI-IPS-3
Sekolah :
SMA Santo Thomas 2 Medan
Tugas : Bahasa Indonesia
Guru : Pak Firnandi Sitanggang
Judul Novel : Selimut Mimpi
Pengarang : R Adrelas
Penerbit : Scritto Books Publisher
Kota : Yogyakarta
Tebal : 352 Halaman
ISBN : 978-602-51347-2-2
Tahun : 2018
Harga : Rp55.000
Cetakan Ke : I
Sinopsis :
Buku ini
menceritakan tentang bagaimana proses-proses yang terjadi terhadap tokoh yaitu
Ilham baik juga dengan keluarganya. Seorang pemuda ini tinggal di sebuah
pedalam di daerah Banten. Pemuda ini berparas tampan,kulitnya tidak putih tapi
tidak juga hitam alias kuning langsat. Di atas dagunya terhias satu titik tahi
lalat,kalau tersenyum tampak manis. Ditambah lagi dengan rambut yang dicukur
rapi. Ia tinggal hanya bersama ibunya Ayahnya sudah lama meninggal karena
merantau ke Kota. Ilham memiliki impian untuk merubah nasib tentang kehidupan
ekonominya. Impiannya ia ingin membahagiakan ibunya. Pada suatu hari Ilham
bersama sahabatnya Opan bercerita di sekitar rumah Ilham. Opan mengatakan
kepada Ilham bahwa perkataan ibunya juga bisa benar karena untuk apa merantau?
Dengan ada ilham bersama ibunya saja ibunya sudah bahagia. Tetapi pikiran Ilham berbeda pikirannya sudah maju dia
beranggapan bahwa hanya dengan cara merantau untuk ke kota ia dapat merubah
situasinya sekarang. Karena memang dalam masalah ekonomi keluarga Ilham sangat
terpuruk sedangkan teman-temanya memiliki penghasilan dan harta yang cukup. Ibu
Ilham yaitu Suadah bekerja sebagai penjual gorengan keliling. Sedangkan Ilham
setelah siap dari membantu ibunya ia akan pergi ke kebun untuk memetik buah melinjo
karena dari situ ia akan dapat upah. Walaupun upah yang didapat sangat minim,
karena memang tidak ada pilihan lain. Pada suatu saat Ilham berjalan menyusuri
jalan setapak dengan pisau kecil yang digenggam sementara tanggan kirinya
menggengam lipatan karung. Matanya tiada henti memandang ke kanan dan kiri,
mecari-cari pohon yang harus ia datangi. Tetapi ia tidak dapat pohon melinjo
yang pas. Saat ia berjalan ia tiba-tiba menghentikan langkah dan sabil
tersenyum karena ia melihat Mang Somad yang mengajak dia untuk merantau ke
kota. Mang Somad yang berpenampilan terlihat seram. Kumis tebal melintang di
atas biibirnya. Bagaikan parit sawah yang dalam, garis codet yang membekas
jelas di pipinya mengerikan. Orang yang baru pertama kali bertemu dengan Mang Somad
akan ketakutan sedangkan Ilham tidak karena ia sudah mengenalnya lama. Somad
sering bercerita kepada Ilham bahwa kehidupan di kota itu sangat asyik dan di kota itu juga penuh pengalaman kata
Somad. Mendengar cerita itu Ilham tergugah untuk mengikuti jejak Somad. Somad
mengatakan kepada Ilham waktunya tinggal 3 hari lagi untuk mengambil keputusan
untuk ikut atau tidak karena ia akan pergi berangkat ke kota. Suatu saat
seorang putri yang bernama Puji, ia bisa dikatakan cantik di desa tersebut
banyak pria yang tertarik kepadanya termasuk Ilham. Puji saat menyapu halaman
rumahnya ia melihat ibunya Ilham menghampirinya untuk menawarkan jualannya.
Lalu puji membeli semua sisa gorengan yang dijual Suadah. Suadah sangat senang,
lalu puji membayar uang gorengannya lebih. Setelah melihat uang itu lebih
Suadah ibunya Ilham langsung memberikan kembaliaanya tetapi Puji tidak
mengharapkan kembaliannya. Karena ia memeliki prinsip walaupun dalam situasi
kekurangan, ia selalu berharap untuk memberi dan berbagi kepada orang lain. Ia
tidak ingin orang lain merasa kasihan dengan kondisinya dengan saat ini.
Pada
suatu hari saat ia setelah selesai bekerja ia langsung berlari ke rumah
mengejar waktu dzuhur yang hampir hilang. Setelah siap sholat ia langsung
makan. Sedangkan ibunya Suadah sibuk menjahit. Setelah siap makan Ilham duduk
di sebelah ibunya yang dedang menjahit tetapi dengan muka yang lesu. Karena
mukanya lesu ibunya mengetahui pasti ia sedang memikirkan tentang nasib
merantaunya. Lalu Suadah mengusap rambut Ilham sambil mengatakan “kamu salah
besar jika menilai ibu tidak bahagia, melihat kamu sehat dan mejadi anak sholeh
itu sudah jauh lebih baik dari cukup, kamu juga salah meganggap ibu menderita
karena merawatmu”. Lalu Ilham berpikir bagaimana caranya meluluhkan hati Ibu.
Ilham berkata “Ibu tidak usah takut, kalaupun kita berpisah, itu hanya
sementara. Ilham akan segera pulang dengan uang yang aku dapatkan di rantauan”.
Ibunya tetap bersikapetap bersikap keras untuk tidak mengijinkan anaknya. Ilham
terus membujuk kepada ibunya. Lalu ibunya menjelaskan mengapa ia tidak
mengijinkan anaknya Ilham untuk merantau karena ada kenangan pahit yang melekat
pada pikiran dan hatinya yaitu karena Ayahnya Ilham Sajoli meninggal karena
merantau ke kota. Mendengar perkataan ibunya yang sambil menangis itu Ilham
tersentuh dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke perantauan. Lalu ilham pergi ke rumah somad untuk
mengatakan bahwa ia tidak jadi ikut.
Pada suatu saat Pria yang bernama Somad datang ke rumah Saudah untuk
membujuk supaya Ilham diijinkan untuk pergi dengan segala cara perkataan
dilakukan somad ia mengkaitkan dengan masa lalu suaminya yaitu Sajoli, dengan
mengatakan “jika kamu iklhlas terhadap kepergian suamimu sajoli kamu tidak akan
mengungkit masa lalu terhadap anakmu Ilham” kata Somad. Karena perkataan itu
Saudah merasa tersentuh, dengan rasa yang sangat berat ia mengijinkan anaknya
Ilham untuk merantau. Setelah Ilham ke rumah Saudah langsung memeluk anaknya
Ilham karena ia merasa bersalah tidak mengijinkan anaknya untuk merantau. Lalu
Ilham merasa bingung dengan ibunya apalagi dengan perkataan besok pergilah
bersama Somad nak. Setelah beberapa waktu tiba saatnya hal yang tidak yang
diinginkan ibunya yaitu perpisahan. Ilham berpamitan kepada ibunya dan juga
terhadap warga kampungnya untuk mengatakan ia akan pergi merantau. Langkah
kakinya sangat berat karena ia tidak melihat ibunya yang menangis karena
kepergiannya. Setelah dari ibunya ia berpamitan kepada Puji wanita yang
disukainya begitu juga dengan puji. Puji bingung dan ia juga merasa kesedihan
sebelum Ilham pergi dari rumahnya ia memberi selembar foto mereka berdua untuk
Ilham. Tetapi sebelum diberikannya ia merobeknya dulu. Foto puji kepada Ilham
sedangkan foto Ilham kepada Puji. Ilham berangkat bersama Somad dengan menaiki
bus. Setelah sampai di jakarta mereka berhenti di sebuah warung untuk
beristirahat karena kata Mang Somad perjalanan masih jauh. Saat di warung itu
Somad memberikan minuman kepada Ilham setelah siap meminum yang diberikan Somad
kepada Ilham. Ilham langsung merasa ngantuk. Lalu Somad membawa Ilham ke suatu
tempat untuk tempat istirahat Ilham. Saat Ilham tidur hal yang tidak disangka
terjadi bahwa Somad mencuri seluruh uang maupun harta yang dibawa Ilham.
Setelah mengambil semuanya ia pergi dan meninggalkan hanya foto Puji. Saat
bangun Ilham terkejut ia sudah dikerumuni preman dan lebih terkejut lagi semua
barang-barang beharganya tidak ada lagi. Ia menyesal mengikuti Somad. Karena ia
tidak memiliki apa-apa lagi ia sudah sangat kelaparan penampilannya pun tidak
teratur lagi sampai-sampai dianggap orang gila. Sampai akhirnya ia mendengar
suara Adzan lalu ia pergi ke masjid dan menemukan seseorang laki-laki yang baik
memberinya baju untuk Sholat tidak hanya untuk itu dia juga memberikan makan
dan memberi pekerjaan di masjid tersebut. Setelah berbicara lama dengan
laki-laki tersebut ia ternyata mengenal Sajoli ayahnya Ilham. Ilham sangat
bahwa tersentuh mengetahui bahwa ayahnya dihormati di masjid tersebut.
Setelah
beberapa lama ia bekerja di masjid itu ia sudah mengumpulkan uang yang cukup
dikirimkan kepada ibunya. Saat dia berjalan ke kantor pos. Somad melihatnya dan
langsung merasuki pegawai pos supaya mengatakan kiriman Ilham tidak bisa
dikirim. Setelah Pegawai kantor pos mengatakan bahwa alamat yang dituju Ilham
tidak bisa diantar. Ilham melangkahkan kakinya kembali untuk pulang. Saat
perjalanan pulang ia terkejut melihat Mang Somad. Setelah berbicara-bicara pria
yang bernama Somad ini mulai lagi merasuki pikiran Ilham tapi tidak sepenuhnya
percaya. Lalu saat perjalan kembali ke
masjid ia membantu seorang orang kaya yang mobilnya sedang mogok lalu Ilham
membantunya. Saat mobil tersebut sudah bisa Hidup Ilham diberikan imbalan oleh
seorang orang kaya tersebut tapi ia tidak menerimanya. Lalu bapak itu memberikan
kartu namanya kepada Ilham jika Ilham mau menjadi asisten rumah tangganya. Lalu
sesuai perjanjian dengan Somad ia bertemu dengan Somad di suatu tempat untuk
berbicara. Panjang cerita Ilham dirasuk oleh Somad sehingga ia mempercayainya
untuk mengantarkan uang kepada ibunya padahal tidak diantar Somad. Pada suatu
saat Ilham memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik lalu dia ijin dan
berterimakasih kepada orang-orang yang membantunya di masjid itu. Setelah
sampai di rumah orang kaya tersebut ia terkejut karena rumahnya sangat besar,
lalu pada saat itu ia langsung bekerja di rumah bapak itu. Ia bekerja sangat
baik sehingga bapak itu menyukainya dan menambah gajinya 2 kali lipat. Tetapi
mendenagr putri bapak ini ia tidak senang mendengar gaji pembantunya ditambah,
menurutnya Ilham itu hanya sandiwara. Lalu dia selalu ingin menjebak Ilham
dengan segala cara tetapi tidak berhasil dan akhirnya ia mengakui bahwa Ilham
itu orang baik. Singkat cerita seorang putri bapak itu jadi menyukai Ilham
sampai-sampai ia cemburu dengan temannya yang mendekati Ilham. Lalu tiba-tiba
somad datang ke rumah yang besar itu untuk menjumpai Ilham dan memberikan
sebuah surat palsu tetapi Ilham tidak mengetahuinya. Surat itu mengatakan bahwa
ibunya sangat senang diberikan uang oleh Ilham dan sudah membuka usaha.
Lagi-lagi ia memberikan amplop yang berisi uang yang cukup banyak kepada Somad
supaya dikirim ke kampung. Setelah beberapa lama di rumah tersebut Ilham masih
kurang puas dengan Gajinya. Ia ditawarkan pekerjaan oleh Tuannya untuk bekerja
di sebuah proyek. Mendengar perkataan itu Ilham sangat senang dan menerima
pekerjaan tersebut. Saat dia bekerja di proyek itu banyak mengalami
peristiwa-peristiwa yang ingin menjatuhkannya. Tetapi karena itu secara
perlahan-lahan jabatannya meningkat dan gajinya otomatis bertambah. Tetapi
sayangnya ia ditipu Somad dengan surat-surat palsu yang diatasnamakan ibunya
dan puji,uangnya pun habis dimakan Somad tapi ia tidak mengetahuinya. Setelah
ia lama bekerja di proyek tersebut ia berhenti dan ingin kembali bersama-sama
dengan ibunya serta juga menepati janji kepada Puji untuk melamarnya. Sebelum
ia pulang ke kampung Tuannya berpesan kepada Ilham untuk melihat anaknya yang
bernama Marsha karena ia sedih Ilham meninggalkanya. Saat perjalan ke desa
Ilham sangat tidak sabar. Saat tiba di desa Ilham langsung kerumah ibunya yang
kata Somad usaha ibunya sudah lancar. Saat sampai Ilham bingung mengapa
rumahnya hancur dan kosong. Lalu seseorang teman dekatnya mengatakan bahwa
ibunya telah meninggal karena Ilham diberitakan telah meninggal spontan Ilham
merasa kesal terhadap Somad telah menipunya. Yang lebih parahnya lagi ternyata
Puji sudah menikah dan memiliki anak, suaminya teman dekatnya sendiri. Ilham
merasa sangat terpukul karena Ibunya sudah meninggal,ia sudah membeli baju
pengantin tapi hasilnnya Puji sudah menikah apalagi dengan teman dekatnya.
Ilham sangat sedih dan terpukul hatinya karena tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Keunggulan Dan Kekurangan Isi Buku :
·
Keunggulan :- Memiliki judul yang menarik sehingga
tidak dapat tertebak ceritanya
- Mengandung
nilai kehidupan yang baik sehingga kita dapat belajar
- Bahasanya mudah di mengerti
·
Kelemahan
:- Cerita akhirnya tidak puas
membacanya karena pergi begitu saja
Saran Terhadap isi novel :
Menurut saya sebagai pemula meresensi buku novel. Novel ini
sudah baik tetapi saran menurut saya cara penyampaian isi cerita dilakukan
dengan baik lagi
Kesan Umum Pembaca :
Saya terkesan dengan buku ini karena ada juga kaitannya
dengan dunia nyata. Sebenarnya teman yang paling dekat kita pun tidak bisa
dipercayai. Yang hanya dapat dipercayai 100% yaitu Tuhan
Biografi Singkat Pengarang :
Penulis
dengan nama Jamaludin Adrian, nama pena R. Adrelas. Ia bertempat tinggal di
Cilegon-Banten. Berbagai tulisan telah tersebar di beberapa media. Ia berhobi
membaca, menulis, dan olahraga. Pekerjaan sehari-harinya adalah karyawan di
sebuah perusahaan swasta di Banten. Ia mengisi hari-hari setelah bekerja dengan
hal-hal positif di antaranya adalah menulis novel. Karya-karya yang akan
diterbitkan antara lain: Novel “Pembunuhan Dellisa” dan “Berandal”.
Gambaran Pokok Isi Novel :
Tema :
Perjuangan seorang anak demi mimpinya
Amanat :
Jangan mudah percaya kepada orang lain walaupun sudah dekat
Tokoh dan Perwatakan : Ilham
(Baik hati, dan keras kepala), Opan Saropan (baik hati, penakut), Saudah (Sabar, penyayang), Mang
Somad (Jahat, licik)
Alur : Maju mundur karena ada juga menceritakan masa
lalunya
Sudut Pandang : Sudut pandang orang
ketiga serba tahu
Latar (Setting) : Kampung cikolek,Banten. Suasana kadang
santai kadang
Menegangkan.
Penutup :
Harapan saya
terhadap penulis untuk karya-karya berikutnya dibuat dengan lebih menarik lagi
dan bukunya cepat laku karena enak dibaca oleh para pembaca. Supaya bangsa
Indonesia lebih sering membaca.
Jika ada
kata-kata yang kurang menarik dari resensi saya ini mohon dimaafkan. Sekian dan
terimakasih semoga kedepannya lebih baik lagi.

Sangat membantu kak
BalasHapus